Sabtu, 14 Agustus 2010

Relasi Baru Sains-Agama

Apakah pelajaran yang bisa dicatat dari kisah tragedi pengadilan dan penghukuman
Galileo Galilei (dengan dibakar hidup-hidup) pada tahun 1633 akibat pendapat
barunya yang bertentangan dengan ajaran pokok gereja? Mereka katakan bahwa bumi
dan planet-planet mengelilingi matahari (heliosentris)? Salah satu jawabannya
barangkali gambaran relasi/ hubungan antara sains dan agama. Meskipun berbeda
wajah dari kasus Galileo di atas, relasi senada mungkin bisa kita simak pada
kasus penemuan Teori Evolusi oleh Charles Darwin.

Hubungan antara sains dan agama beberapa kali memang diwarnai dengan perseteruan
hebat dan pertempuran antara hidup dan mati. Sering kali, pendukung dan pengikut
masing-masing kelompok baku serang penuh emosi dan kemarahan.

Buku yang aslinya berjudul When Science Meets Religion: Enemies, Strangers, or
Partners? (edisi Indonesia: Juru Bicara Tuhan: Antara Sains dan Agama) ini
antara lain menelisik dan membuat semacam peta baru mengenai hubungan sain dan
agama itu.


Pertemuan Sains dan Agama

Mula-mula pertemuan sains dan agama terwujud dalam situasi persahabatan. Itu
terjadi kurang lebih pada abad ke-17. Banyak dari kalangan pengikut agama
(Kristen) taat yang terjun dalam kancah revolusi ilmu pengetahuan. Keyakinan
yang berkembang ketika itu, kurang lebih demikian. Tujuan dan k(in)erja ilmiah
dalam ilmu pengetahuan merupakan bagian penting dalam mempelajari ciptaan Tuhan.

Memasuki abad ke-18 berkembang paradigma baru. Tuhan tidak lagi dipahami dalam
bentuk personal yang senantiasa terlibat dalam setiap relung kehidupan.
Selanjutnya, memasuki abad ke-19, berkembang fenomena baru, antara lain
berkembang kecenderungan baru, yakni adanya sejumlah ilmuwan yang mulai
mengabaikan agama. Charles Darwin dengan teorinya tentang asal-usul manusia yang
selanjutnya populer dengan sebutan "Teori Evolusi" misalnya, yang agaknya
menandai fenomena ini.

Memasuki abad ke-20 hubungan sains dan agama mengambil beragam bentuk.
Temuan-temuan baru sains nyata-nyata menantang doktrin dan gagasan-gagasan
keagamaan klasik. Sehingga, responsnya pun beraneka rupa. Misalnya, beberapa
kalangan mempertahankan doktrin-doktrin tradisional, beberapa yang lain
meninggalkan tradisi, dan beberapa lagi yang merumuskan kembali konsep keagamaan
secara ilmiah.

Berangkat dari respons terhadap temuan-temuan sains yang beraneka rupa tersebut,
Barbour selanjutnya memetakan hal itu menjadi 4 tipologi hubungan sains dan
agama. Masing-masing meliputi Konflik, Independensi, dialog, dan terakhir
integrasi.

Tipologi pertama adalah konflik, antara lain menggambarkan bahwa hubungan antara
sains dan agama tidak mungkin dipertemukan. Ada semacam permusuhan pertempuran
hidup-mati di sana. Keadaan itu mungkin pernah terjadi, misalnya ketika
pendukung teori Evolusi Darwin dan para penyanggahnya saling serang dan
berbantah, (halaman 40).

Tipologi kedua, independensi. Tipologi itu merupakan alternatif dari tipologi
yang pertama. Tipologi itu berpandangan bahwa antara sains dan agama bisa hidup
tenteram dan berdampingan jika masing-masing saling konsentrasi pada wilayahnya
sendiri-sendiri. Masing-masing kelompok diandaikan harus mempertahankan "jarak
aman"-nya, tidak diperkenankan melangkah keluar "pagar"-nya.

Karena itu, dalam tipologi itu sangat dianjurkan agar mereka dari kalangan sains
menghindari jauh-jauh klaim-klaim ilmiah. Dari kalangan sains sendiri dianjurkan
menyingkiri klaim-klaim di luar kewenangannya, seperti mengemukakan natural
philosophy. Kenapa? Sekali lagi, karena antara sains dan agama domain wilayah
serta bahasa sendiri-sendiri yang tidak bisa dipertentangkan, sebab
masing-masing entitas melayani fungsi yang berbeda, serta menjawab persoalan
yang berbeda pula dalam kehidupan umat manusia.

Tipologi ketiga adalah dialog. Yaitu tipologi yang berupaya mencari
pembandingan-pembandingan tertentu, agar persamaan dan perbedaan metode yang
digunakan oleh masing-masing dapat ditunjukkan. Contoh kasus dalam tipologi
ketiga ini yaitu model konseptual dan analogi dalam memberi penjelasan mengenai
suatu objek. Baik itu konseptual maupun analogi, biasanya digunakan untuk
menjelaskan sebuah objek yang tidak mungkin bisa diamati secara langsung
(contoh: Tuhan, partikel dan subatom).

Tipologi keempat adalah integrasi. Yaitu model tipologi yang berupaya mencari
titik temu antara penjelasan-penjelasan yang ada dalam sain dan agama itu.
Sebagai contoh, berbagai bukti tentang keberadaan Tuhan sudah tidak asing lagi
telah kita kenal dalam tradisi natural theology yang cukup panjang.

Belakangan para astronom menyatakan, berdasarkan ketetapan ilmu-ilmu fisika alam
semesta ini ternyata terancang sedemikian cermat, sebab seandainya saja laju
ekspansi alam semesta satu detik setelah dentuman besar (Big Bang) sedikit lebih
kecil (dari yang kini diketahui), kemungkinan besar alam semesta ini akan
mengalami keruntuhan sebelum unsur-unsur kimia yang dibutuhkan itu terbentuk.
Begitu juga sebaliknya, jika saja laju ekspansi itu sedikit lebih besar, niscaya
evolusi kehidupan tidak mungkin pernah akan terjadi, (halaman 42).


Dikotak-kotakkan

Dari segi data, buku ini tampaknya cukup mengagumkan. Sebagai guru besar fisika
sekaligus teologi pada Carleton College, USA, tampaknya Barbour cukup piawai
mengerahkan data-data yang diperlukan untuk menjelaskan wacana baru menyangkut
hubungan antara sains dan agama. Bagi Barbour, antara sain dan agama, tidak
seharusnya dikotak-kotakkan secara terpisah. Pandangan semacam itu kalau boleh
dijelaskan lebih jauh, mungkin berkaitan erat dengan latar belakang dirinya yang
pernah menghirup udara di alam atmosfer filsafat Timur, (beliau pernah cukup
lama tinggal di Beijing).

Kita tahu, kecenderungan dalam filsafat Timur adalah kebalikan dalam filsafat
Barat. Filsafat Timur dalam hal ini cenderung berusaha menyelaraskan diri dan
menyatu dengan alam. Sedangkan filsafat Barat, kecenderungannya menundukkan dan
menguasai alam. Barang kali dari pengaruh filsafat Timur itulah yang memberi
dorongan untuk mencari celah-celah integrasi antara sains dan agama dalam
hubungannya selama ini.

Wacana yang dikembangkan dalam buku ini, sebagaimana diakui Barbour sendiri
bertujuan untuk mempromosikan masalah-masalah konseptual dan etis; bukannya
mencampuradukkan sains dan agama. Dua wilayah tersebut menurutnya, tidak harus
tandus selamanya bagi upaya pengembangan dan interaksi yang lebih kreatif dan
inovatif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar